ACEH JAYA (AWN) –Dinas Kesehatan Aceh Jaya mencatat hingga Agustus 2026 kasus malaria mencapai 76 kasus, hal ini meningkat dibandingkan Mei lalu hanya sebanyak 30 kasus.

“Jumlah kasus malaria hingga saat ini sebanyak 76 kasus, memang ada peningkatan dibandingkan bulan Mei lalu hanya 30 kasus, ” Kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Jaya, dr Ferdian, Kamis (24/9).

dr Ferdian menyampaikan kalau kasus malaria ini terjadi lonjakan akibat meningkatnya aktifitas warga dikawasan tambang emas yang ada disejumlah kecamatan di Aceh Jaya.

Ia menambahkan kalau kebanyakan jenis malaria yang ditemukan saat ini adalah malaria knowlesi yaitu jenis penyakit malaria zoonosis (penularan dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh parasit.

“Jenis malaria ini menular dari hewan yang menyebar ke manusia, dan ini lokus nya kebanyakan dari area pertambangan didalam hutan, ” Katanya.

“Untuk penanganan sendiri telah kita lakukan sejak lama baik itu sosialisasi maupun membagikan kelambu kepada para penambang, apalagi saat inikan penambang lokal semakin hari semakin meningkat,” Katanya

Ia juga menjelaskan kalau selain terus melakukan sosialisasi akibat lonjakan tersebut pihaknya juga telah duduk bersama dalam Pertemuan Koordinasi dan Advokasi Pemeliharaan Eliminasi Malaria di Aula Kantor Bupati Aceh Jaya pada Rabu, 12 Agustus 2026 lalu

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menyatukan langkah lintas sektor untuk menekan penyebaran malaria di Aceh Jaya

Ia menjelaskan kalau dalamnpertemuan tersebut Wakil Bupati memberikan arahan kepada perangkat daerah terkait agar memperketat pengawasan kesehatan di kawasan pertambangan.

“Tokoh masyarakat dan pemuka adat juga dilibatkan untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat serta pekerja tambang, “katanya

dr Ferdian menyampaikan kalau sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah menyepakati sejumlah langkah. Dinas Kesehatan bersama unsur TNI/Polri akan melakukan skrining atau pemeriksaan darah secara massal di pintu masuk kawasan tambang.

Pemerintah juga meminta tokoh masyarakat menggerakkan gotong royong untuk membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta memastikan para pekerja menggunakan kelambu sebagai perlindungan dari gigitan nyamuk penular malaria.

“Selain itu, pos kesehatan lapangan atau pos satelit darurat akan ditempatkan untuk mempercepat deteksi dini, pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasien yang dinyatakan positif, “katanya.

Ia menyampaikan kalau penanganan malaria membutuhkan keterlibatan seluruh sektor, terutama karena aktivitas di kawasan tambang menjadi salah satu lokasi yang ditemukan terkait dengan klaster kasus.

“Kita dari Dinas Kesehatan berharap masyarakat dapat meningkatakan kewaspadaan terhadap kasus malaria ini, “Tutupnya.[]

 

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *