ACEH JAYA (AWN) – Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Aceh Jaya bukan sekadar proyek pembangunan sebuah kompleks pendidikan. Kehadirannya dapat menjadi titik awal untuk mengubah arah pembangunan pendidikan daerah dari sekadar memenuhi kebutuhan sekolah menuju upaya membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya saing.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merencanakan pembangunan SNT di Aceh Jaya mulai November 2026. Kabupaten ini menjadi salah satu dari 35 kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan SNT, dengan nilai pembangunan hingga fungsional mencapai sekitar Rp250 miliar.
SNT yang direncanakan berdiri di kawasan Jalan SKB, Desa Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee. Pada tahap awal, pembangunan menggunakan lahan sekitar lima hektare yang telah dipersiapkan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya melalui skema hibah lahan.
Sekolah ini nantinya mencakup jenjang pendidikan SD, SMP hingga SMA. Penerimaan peserta didik direncanakan dimulai pada tahun ajaran 2027/2028.
Namun, angka Rp250 miliar dan luas lahan lima hektare bukanlah inti dari cerita besar SNT. Yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dilakukan Aceh Jaya setelah sekolah itu berdiri.
Selama ini, tantangan pendidikan Aceh Jaya tidak hanya berkaitan dengan bangunan sekolah. Persoalan guru, pemerataan kualitas pembelajaran, fasilitas pendidikan, akses bagi anak-anak di wilayah pedalaman, hingga peningkatan kompetensi peserta didik menjadi bagian dari pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap.
Karena itu, SNT seharusnya kedepan tidak berdiri sebagai institusi pendidikan yang berjalan sendiri. Kehadirannya justru perlu menjadi pusat pertumbuhan ekosistem pendidikan baru di Aceh Jaya.
Sekolah-sekolah di sekitarnya harus ikut mendapatkan dampak positif. Guru perlu memperoleh ruang untuk belajar dan meningkatkan kompetensi. Praktik pembelajaran yang baik perlu direplikasi. Peserta didik dari sekolah lain harus memiliki kesempatan berinteraksi dalam kegiatan akademik maupun pengembangan bakat.
Dengan begitu, SNT bukan hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga ikut mendorong peningkatan kualitas sekolah lain.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dibawah kepemimpinan SALEM, bahwa keberadaan SNT diharapkan dapat memicu sekolah-sekolah sekitar untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Dampaknya bahkan diproyeksikan terasa dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Bupati Aceh Jaya Safwandi menilai keberadaan SNT tidak hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga dapat memperluas kawasan perkotaan Calang dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat serta UMKM.
Pandangan tersebut membuka satu perspektif penting. Pembangunan pendidikan sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri.
Ketika sebuah kawasan pendidikan tumbuh, kebutuhan terhadap transportasi, tempat tinggal, makanan, jasa, perdagangan hingga berbagai usaha masyarakat juga berpotensi berkembang.
Bagi Aceh Jaya, SNT dapat menjadi kesempatan penting untuk membuka babak baru terkait pendidikan.
Bukan berarti sekolah-sekolah yang ada selama ini tidak baik. Justru kehadiran SNT seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat seluruh sistem pendidikan yang telah berjalan.
Aceh Jaya tidak membutuhkan hanya satu sekolah yang maju. Aceh Jaya membutuhkan ekosistem pendidikan yang maju.
Dari satu sekolah, lahir inovasi. Dari inovasi, lahir peningkatan kualitas guru. Dari guru yang berkualitas, lahir peserta didik yang memiliki kompetensi. Dari peserta didik yang berkualitas, lahir sumber daya manusia yang mampu mengisi pembangunan daerah.
Rantai itulah yang jauh lebih penting daripada sekadar pembangunan fisik. Jika proses tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, maka pembangunan SNT pada November 2026 bukan hanya akan tercatat sebagai pembangunan sebuah sekolah baru di Aceh Jaya.
Ia bisa menjadi langkah awal perjalanan panjang menuju pendidikan Aceh Jaya yang lebih bermutu, merata dan berdaya saing.
Dan pekerjaan besar itu sesungguhnya dimulai bukan ketika gedung selesai dibangun, melainkan sejak pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan masyarakat mulai menyiapkan ekosistem pendidikan yang ingin diwariskan kepada generasi Aceh Jaya berikutnya.[]









