Perjanjian Damai Helsinki tahun 2005 menjadi tonggak sejarah yang mengakhiri konflik puluhan tahun di Aceh yang saat ini berusia 21 Tahun.
Bagi generasi remaja saat ini yang mayoritas lahir setelah era reformasi atau tidak mengalami langsung masa kontak senjata, makna damai telah mengalami pergeseran bentuk dari sekedar penghentian konflik militer menjadi ruang untuk bertumbuh, berekspresi, dan membangun masa depan.
Bagi generasi terdahulu, perdamaian diukur dari tidak adanya dentuman senjata dan jam malam. Bagi remaja Aceh masa kini, damai mengartikan rasa aman yang hakiki dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Meski fisik wilayah telah aman, remaja Aceh menghayati bahwa menjaga kedamaian di era modern menghadirkan tantangan tersendiri. Fokus perjuangan tidak lagi berhadapan dengan ancaman fisik, melainkan masalah sosial-ekonomi:
Generasi muda Aceh berada pada posisi penting sebagai perajut masa depan sekaligus penjaga ingatan sejarah. Pemahaman mereka terhadap sejarah konflik bukan untuk merawat dendam, melainkan sebagai pengingat betapa mahalnya harga sebuah perdamaian. Nilai-nilai toleransi, kesetaraan, dan keadilan sosial kini menjadi fondasi utama dalam memaknai perdamaian tersebut.
Pada akhirnya, damai di mata remaja Aceh bukan sekadar lembar kertas kesepakatan politik yang ditandatangani di masa lalu. Damai adalah panggung aktif di mana mereka bisa merajut cita-cita, mengekspresikan karya, dan membuktikan bahwa Aceh mampu bangkit menjadi wilayah yang maju dan berdaya saing tinggi.
Azhar Abdurrahman selaku mantan Kombatan yang juga mantan Bupati Aceh Jaya dua Periode menyampaikan kalau untuk merawat perdamaian salah satu tonggak yang paling penting adalah membangun kesejahteraan.
“Saya rasa untuk merawat perdamaian itu adalah membangun mesejahteraan karena itu menjadi kunci masalah,” Ujar Mantan Bupati Aceh Jaya usai kegiatan Doa Bersama dalam rangka hari damai Aceh ke 21 di Taman Memorial Tsunami Aceh Jaya, Sabtu (15/8/2026)
Menurut Azhar jika banyak orang miskin pasti angka kriminal akan maningkat kalau kriminal tinggi, pasti dieksploitasi oleh mafia, akhirnya politik dan ideologi akan terseret ke hal lain.
“Maka untuk menjaga tersebut, pentingnya pemerintah terus bekerja untuk membangun kesejahteraan, “Tegasnya.
Azhar menyampaikan jika melihat situasi saat ini ditengah perdamaian masyarakat sudah mudah mencari rezeki, kegunung juga mudah berkebung juga bagus hasilnya, kelaut juga ada rezekinya.
” kalau ingin sejahtera pastinya kerja keras, jika ingin enak ya tidur tidur saja, “tuturnya
Sementara itu Wakil Bupati Aceh Jaya, Muslem D selaku pemerintah Aceh Jaya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk sama-sama merawat perdamaian di Aceh Jaya khususnya sehingga program pembangunan kedepan juga akan berjalan dengan baik.
” Kegiatan Zikir Akbar yang diselenggarakan di Hari Damai Aceh yang ke-21 tentunya dalam rangka juga mendukung terus pembangunan dan kestabilan di Kabupaten Aceh Jaya, “kata Muslem.
Sementara itu Imum syik mesjid Baitul Izzah Aceh Jaya, Mustafa Sarong menjelaskan kalau ada lima hal yang harus diperhatikan ditengah perdamaian saat ini yaitu Keamanan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi, transportasi.
” Ada lima hal yang harus ada dalam merawat perdamaian Keamanan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi, transportasi, ” Katanya dalam sambutan.
Kegiatan zikir akbar dalam rangka peringatan Hari Damai Aceh Ke 21 di Aceh Jaya ditutup dengan pelepasan Merpati Putih oleh Bupati dan wakil Bupati Aceh Jaya serta para Forkopimda Aceh Jaya ditaman Memorial Tsunamy Aceh Jaya.[]











