BANDA ACEH (AWN) – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memperkuat komitmennya mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dengan menggandeng Yayasan Pijar Masa Depan. Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh akses pendidikan, fasilitas, serta kesempatan berpartisipasi secara setara di lingkungan kampus.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., dan Direktur Eksekutif Yayasan Pijar Masa Depan, Cazadira Fediva Tamzil, di Ruang Sidang Lantai II Biro Rektorat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (2/11/2026).

Kerja sama ini mencakup bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kedua pihak juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait pelaksanaan rencana aksi (action plan) KRISAN Fellowship 2026 untuk memperkuat sistem dan layanan pendukung mahasiswa penyandang disabilitas.

Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab memberikan kesempatan pendidikan yang sama kepada seluruh masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik maupun sensorik.

Menurutnya, pendidikan inklusif tidak cukup hanya diwujudkan melalui penerimaan mahasiswa disabilitas, tetapi juga harus didukung lingkungan akademik dan fasilitas yang memungkinkan seluruh mahasiswa mengikuti proses pendidikan secara optimal.

“UIN Ar-Raniry sangat memperhatikan persoalan anak dan penyandang disabilitas. Dalam beberapa tahun terakhir, kami menerima mahasiswa dengan beragam kondisi disabilitas, mulai dari tuli, disabilitas netra hingga mahasiswa dengan keterbatasan fisik,” ujar Mujiburrahman.

Ia menjelaskan, kampus telah menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, seperti jalur pemandu bagi mahasiswa tunanetra, akses bagi pengguna kursi roda, serta toilet yang disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

Namun, ia tidak menampik masih terdapat sejumlah fasilitas yang perlu dibenahi, terutama akses menuju ruang perkuliahan di lantai atas. Pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghadirkan kampus yang semakin ramah dan mudah diakses seluruh mahasiswa.

Selain infrastruktur, UIN Ar-Raniry juga mendorong penguatan kebijakan perlindungan anak dan kesetaraan gender melalui Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA).

Sementara itu, Program Manager KRISAN Fellowship, Ellya Rizki Handayani, mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan kerja sama, tetapi mampu mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan dalam sistem pendidikan tinggi.

Menurutnya, inklusivitas harus menjadi bagian dari budaya kampus, mulai dari proses pembelajaran, pelayanan akademik, hingga kesempatan setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi dirinya.

“Kami berharap kolaborasi ini menjadi langkah awal dari komitmen jangka panjang untuk membangun lingkungan pendidikan tinggi yang semakin inklusif. Inklusivitas bukanlah tujuan akhir yang selesai ketika fasilitas tersedia atau kebijakan ditetapkan, melainkan nilai yang harus hadir dalam keseharian kampus,” kata Ellya.

Sebagai tindak lanjut KRISAN Fellowship 2026, UIN Ar-Raniry telah menyusun rencana aksi yang berfokus pada peningkatan kapasitas kelembagaan, penguatan kebijakan, serta perbaikan praktik pelayanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Untuk memastikan program berjalan sesuai target, Pijar Foundation akan memberikan pendampingan, mentoring, koordinasi, serta pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana aksi tersebut.

Penandatanganan PKS dilakukan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Ar-Raniry, Reza Idria, Ph.D., bersama Direktur Eksekutif Yayasan Pijar Masa Depan, Cazadira Fediva Tamzil.

Pelaksanaan program ini melibatkan tim UIN Ar-Raniry, yakni Dr. Nashriyah, M.A., dan Harri Santoso, M.Ed., yang bertugas mengoordinasikan kegiatan, mengelola dukungan pembiayaan, serta melaporkan perkembangan pelaksanaan program.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun perguruan tinggi yang tidak hanya membuka pintu bagi mahasiswa penyandang disabilitas, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan ruang, layanan, dan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, serta meraih masa depan.[]

Penulis: RilEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *